Postingan

Sampai Reda

Beberapa waktu kemarin, Kejadian beberapa tahun laku terulang kembali. Kejadian yang sangat aku rindukan. Kejadian dimana aku masih bersamamu, tuan. Nahas. Latarnya memang masih sama. Namun tokohnya, kini berbeda. Pulang sekolah, pukul empat lewat lima sore. Nuktoh hujan mulai menderai. Mengingatkanku pada kisah cinta yang tak sampai, pada si Empu rindu yang terjuntai. Kebiasaanku masih sama, lupa membawa payung. Seperti katamu ; payah . Namun dahulu, meski aku payah, justru aku malah gembira riang. Sebab sepulang sekolah kita bisa bermain hujan. Beda dengan sekarang. Aku tengah berdiri di tepi gerbang sekolahan. Basah kuyup tubuhku sebab kehujanan. Kata orang, menangislah jika hujan turun, maka air matamu tak akan diketahui orang, kecuali dirimu. Ya, aku melakukan itu sekarang. Aku berdiri, sambil menangis. Mengingat kembali detik-detik yang, ah, sungguh romantis. Irama hujan yang turun, entah mengapa sangat ritmis. Membawa memoriku pada kisah nan dramatis....

Ada Dia Dihati Tuan, Ya?

Hujan ini, hujan yang selalu aku rindukan. Hujan yang membawa kita pada suatu pertemuan. Hujan ini, hujan yang membawa sebuah rasa. Rasa yang bermetamorfosa seperti uap air di laut yang menjadikannya rintik hujan berisi ribuan kenangan yang belum hilang. Jika Tuan pernah menyaksikan hujan turun saat matahari bersinar, maka Tuan seharusnya mengerti apa yang kurasakan. Yaitu memilih diam dan tersenyum ketika Tuan sedang berdua dengan lain wanita. Apakah Tuan pikir diamku bukan lagi pedulimu? Salah. Justru dengan diam aku berusaha menahan semua gejolak rasa. Aku tahu, kalau air ditumpahkan, maka semua akan basah. Begitu juga dengan rasaku. Jadi, aku memilih diam. Padahal sebenarnya hatiku sedang bergemuruh riuh. Jiwaku sedang meronta guruh. Dan mungkin jika Tuan menghitung nadiku, akan terasa sangat cepat. Sebab jantungku memang sedang benar-benar ditekan. Tuan, kau tau? Dari semua yang kukatakan, hanya ada satu kesimpulan ; cemburu. Tuan, aku cemburu. Aku tak mau ada wanita lai...

Jatuh Hati di Masa Putih Biru

Aku bimbang. Haruskah kusebut ini bahagia atau malah luka? Yang jelas, aku bersyukur busa mengenalmu sejauh ini. Meski sekarang aku dan kau berselisih hati. Sederhananya, Aku adalah seseorang yang pernah kau sebut masa depan. Lucu memang. Kau sampai menuliskan hal itu di dinding kelas kita dulu. Dahulu, Kala langit bernaung abu-abu. Kali pertama kita memakai seragam putih biru. Cuaca sedang sedikit gerimis. Rintik yang jatuh amat bernuansa manis. Tiba-tiba, ada yang tertangkap di lensa mataku. Aku melihat seorang laki-laki yang tengah berdiri dengan satu buah dasi yang amat rapi. Sepersekian waktu itu, mataku selalu mencarimu dan memandangi sosokmu. Hatiku pun merasakan syukur teramat syukur bisa merasakan teduhnya perangaimu. Pada kamu, yang bahkan belum ku ketahui namanya ketika itu. Takdir mempertemukan kita berdua. Gembira bukan kepalang ketika aku tahu bahwa aku dan kamu satu kelas. Sejak saat itu, hobiku adalah memperhatikanmu. Menatap lekat teduh wajahmu. B...

Ruang Kita

Berdua Di ruang kita Tak luas, tak apa Yang penting, tak alpha Berdua Bersolek mesra Mengadu curahan rasa Menatap senja Merangkai cerita Merenungi nestapa Berdua Semesta Menuangkan segala asa Tak jera Memberi cinta Meluapkan derita Menanti asmara Berdua saja Hanya ada kita Jangan ada dia - Pi , puisi saat aku dan dia sedang duduk satu meja , dalam ruang yang sama , serta dengan keadaan hati yang masih sama , dua tahun lalu.

Kau Adalah Kau-Ku

Aku akan bercerita. Beberapa tahun lalu, aku telah menyatakan suatu kebenaran kepadamu. Kebenaran yang tidak bisa disalahkan. Tapi, kau justru menyebutnya sebagai suatu kesalahan. Kesalahan yang tidak akan pernah menjadi benar. Aku sibuk membuatmu percaya. Kau justru sibuk memungkiri rasa. Kau membuatku tidak berdaya. Aku menyesal? Tidak. Segala hal yang kulakukan sudah kupikirkan matang-matang. "Aku mencintaimu, aku ingin bersamamu." Kataku, dulu. "Tapi aku tidak mencintaimu," katamu, dulu. Kau ini memang aneh. Kau tak mencintaiku, aku tahu itu bahkan sebelum kau utarakan padaku. Jadi, seharusnya kau tak perlu bilang seperti itu, dulu. Atau kau akan membuat hatiku semakin patah, tidak terarah. Aku mencintaimu. Itu saja. Aku tidak muluk-muluk. Bahkan aku tak meminta agar kau jadi milikku. Aku hanya ingin kita selalu bersama. Aku hanya ingin kita bercanda seperti sedia kala. Aku hanya ingin kita larut dalam obrolan manis seperti sebelumnya. Sekali lagi, aku t...

Hujan di Lain Waktu

Dulu, siang siang, aku bermain hujan. Dulu, siang siang, aku, dan kau kasmaran. Dulu siang siang, aku masih bersamamu, sayang. Sekarang, siang siang, aku masih bermain hujan. Bedanya, sekarang aku bermain sendirian. Bedanya, sekarang aku kesepian. Sekarang, kalau hujan, aku mengenang. Sekarang, kalau hujan, yang muncul kenangan. bukan genangan. Sekarang, kalau hujan, air mata yang berlinang, bukan air biasa yang berjatuhan. Sekarang, semua hilang. Hanya sisa sampah residu yang harus dimusnahkan. Namun ia enggan untuk menghilang. Kalau hujan, aku rindu kamu. Sekarang, kalau hujan, aku bermain dengan bayangan kamu. Bayangan maya, semu. Aku tertikam halu. Kenyataannya bahwa kamu sudah berlalu. - Pi, puisi di pagi menuju siang hari, dalam kelas , saat cuaca gerimis , tahun lalu.

Kosong

Tak ada kata hari ini. Kosong. Ber-ruang, namun tak berisi. Kacau. Semua, tanpa sisa. Tak ada kata hari ini. Cukup aku, kau, dan sepotong hati. Tak ada kata hari ini. Hanya jalan lenggang yang renggang. Tak ada kata hari ini. Cukup kepiluan hati. Cukup kepanikan seorang diri. Cukup asing sendiri. Tak ditemani. Sepi, dirasa hati. Padahal, ini bumi. Luas tak terukur dengan jemari. Hanya aku. Kau. Dan sepotong hati, yang baru lagi. - Pi, puisi bulan Juni 2017 , saat aku dan kau sudah benar-benar sendiri.