Sampai Reda
Beberapa waktu kemarin,
Kejadian beberapa tahun laku terulang kembali.
Kejadian yang sangat aku rindukan.
Kejadian dimana aku masih bersamamu, tuan.
Nahas.
Latarnya memang masih sama.
Namun tokohnya, kini berbeda.
Pulang sekolah,
pukul empat lewat lima sore.
Nuktoh hujan mulai menderai.
Mengingatkanku pada kisah cinta yang tak sampai,
pada si Empu rindu yang terjuntai.
Kebiasaanku masih sama,
lupa membawa payung.
Seperti katamu ; payah.
Namun dahulu,
meski aku payah, justru aku malah gembira riang.
Sebab sepulang sekolah kita bisa bermain hujan.
Beda dengan sekarang.
Aku tengah berdiri di tepi gerbang sekolahan.
Basah kuyup tubuhku sebab kehujanan.
Kata orang,
menangislah jika hujan turun, maka air matamu tak akan diketahui orang, kecuali dirimu.
Ya, aku melakukan itu sekarang.
Aku berdiri, sambil menangis.
Mengingat kembali detik-detik yang, ah, sungguh romantis.
Irama hujan yang turun,
entah mengapa sangat ritmis.
Membawa memoriku pada kisah nan dramatis.
Membawa aku pada kenangan manis, sekaligus tragis.
Aku benci situasi ini.
Namun, rinduku jauh lebih besar ketimbang rasa benciku.
Aku bersyukur,
Setidaknya ribuan keping kenangan masih terjaga dalam sel-sel neuronku.
Setidaknya Sang Pencipta masih mau mengguyurkan hujan, meski Ia tahu, ada hati yang tergores pilu.
Jika kau berpikir aku sudah berpaling,
itu salah.
Justru makin hari cintaku semakin merimbun.
Justru harapanku kian membumbung.
Aku menyukai hujan ini.
Aku menyukai bau basah ini.
Aku menyukai kisah ini.
Aku menyukaimu,
itu selalu.
Sekarang aku sadar,
aku akan menunggu.
Aku tak akan lari menepis jarak ini.
Aku akan tetap disini, tampat ini.
Sampai rintik hujan terhenti.
- Pi, puisi 25 Maret 2018, ketika hujan tengah membadai, sedang rindu tetap berderai.
Komentar
Posting Komentar