Kau Adalah Kau-Ku

Aku akan bercerita.

Beberapa tahun lalu, aku telah menyatakan suatu kebenaran kepadamu. Kebenaran yang tidak bisa disalahkan. Tapi, kau justru menyebutnya sebagai suatu kesalahan. Kesalahan yang tidak akan pernah menjadi benar.

Aku sibuk membuatmu percaya. Kau justru sibuk memungkiri rasa. Kau membuatku tidak berdaya. Aku menyesal? Tidak. Segala hal yang kulakukan sudah kupikirkan matang-matang.

"Aku mencintaimu, aku ingin bersamamu." Kataku, dulu.

"Tapi aku tidak mencintaimu," katamu, dulu.

Kau ini memang aneh. Kau tak mencintaiku, aku tahu itu bahkan sebelum kau utarakan padaku. Jadi, seharusnya kau tak perlu bilang seperti itu, dulu. Atau kau akan membuat hatiku semakin patah, tidak terarah.

Aku mencintaimu. Itu saja. Aku tidak muluk-muluk. Bahkan aku tak meminta agar kau jadi milikku. Aku hanya ingin kita selalu bersama. Aku hanya ingin kita bercanda seperti sedia kala. Aku hanya ingin kita larut dalam obrolan manis seperti sebelumnya. Sekali lagi, aku tak minta hatimu.

Terserah. Kau adalah pemilik hatimu. Kau bebas sesukamu menentukan pilihanmu. Dan aku sadar, bahwa aku bahkan tak masuk dalam kategori pilihanmu itu. Aku jauh dari sudut hatimu, aku tahu itu.

Tapi, asal kau tahu. Melihat seulas senyum dari bibirmu saja aku bahagia tiada tara. Meski aku tahu, alasanmu tersenyum bukanlah karenaku.

Ah, aku ini memang keras kepala, ya. Sudah tahu kalau kau tak mungkin membalas cintaku, tapi aku tetap mencintaimu.

Apa kau tahu bagaimana rasanya bertahan bertahun-tahun? Itu nikmat sekali. Nikmat ketika hanya bisa melihat senyummu dari jauh. Nikmat ketika bisa merasakan hadirmu meski bukan untukku. Nikmat ketika merasakan bahagiamu meski bukan denganku.

Jadi, jangan kau pikir aku ini sakit hati.
Justru kau yang akan sakit hati karena telah pergi.
Tapi aku tidak setega itu.
Justru aku berdoa agar kita bahagia, dengan cara masing-masing.
Aku dengan diriku, dan kau dengan dirinya, misal.

Ya, kau dengan dirinya.

Aku dengan diriku.

Entah kenapa, yang jelas setelah kita tak lagi seperti dulu, aku mulai suka menulis. Aku mulai senang berteman dengan segala keadaan. Mataku mulai senang memandang langit dan bulan. Telingaku bahkan mulai bisa mendengar keluh kesah keheningan. Dan hatiku, mulai bisa melupakan tentangmu.

Aku aneh. Mungkin ketika orang lain sedang berproses dengan luka, mereka akan menghilangkan segala yang mereka ingat tentang orang yang dicintainya.
Tapi tidak denganku. Malah aku bersikeras mencatatmu dalam memoriku dan menulis tentangmu, sesukaku.

Ini jalanku. Bukan urusanmu. Aku mencintaimu. Ini urusanku.

Perihal luka, biarlah ia hilang secara seharusnya. Dan perihal rindu, biarlah ia mengalir sewajarnya.
Aku tak akan menyalahkan rasa. Sebab rasa cintaku murni berasal dari Rabb-ku. Tuhan sengaja mempertemukanku dengan dirimu agar kita sama-sama mengerti arti mencintai dan dicintai.

Tuan, maaf, ya. Sebab kau seringkali menjadi sebuah perbincanganku dengan Rabb-ku. Sebab kau yang selalu menjadi gagasan puisiku.

Aku mencintaimu.
Sesederhana itu.

- Pi

Komentar