Ada Dia Dihati Tuan, Ya?

Hujan ini, hujan yang selalu aku rindukan. Hujan yang membawa kita pada suatu pertemuan.
Hujan ini, hujan yang membawa sebuah rasa. Rasa yang bermetamorfosa seperti uap air di laut yang menjadikannya rintik hujan berisi ribuan kenangan yang belum hilang.

Jika Tuan pernah menyaksikan hujan turun saat matahari bersinar, maka Tuan seharusnya mengerti apa yang kurasakan. Yaitu memilih diam dan tersenyum ketika Tuan sedang berdua dengan lain wanita.

Apakah Tuan pikir diamku bukan lagi pedulimu?
Salah. Justru dengan diam aku berusaha menahan semua gejolak rasa. Aku tahu, kalau air ditumpahkan, maka semua akan basah. Begitu juga dengan rasaku. Jadi, aku memilih diam.

Padahal sebenarnya hatiku sedang bergemuruh riuh.
Jiwaku sedang meronta guruh.
Dan mungkin jika Tuan menghitung nadiku, akan terasa sangat cepat. Sebab jantungku memang sedang benar-benar ditekan.

Tuan, kau tau? Dari semua yang kukatakan, hanya ada satu kesimpulan ; cemburu.

Tuan, aku cemburu.
Aku tak mau ada wanita lain yang dekat denganmu.
Aku tak rela ada wanita lain yang tau tentangmu.
Aku tak sudi ada wanita lain yang menelusup ke hatimu.

"Lihat, Tuan! Aku disini. Ada aku! Kau tak perlu mencari wanita lagi. Ada aku!"
Lalu Tuan terdiam. Bimbang akan memilih diriku atau dirinya.

Aku sadar, pilihan Tuan bukan lagi aku.
Aku memilih pergi dari Tuan untuk sementara.
Kemudian Tuan berlagak kebingungan.
Entah apa yang harus Tuan jelaskan padaku nantinya.

Tidak, Tuan. Semuanya sudah jelas.
Kau dengan wanita lain, sedang dibelakangmu aku asyik menyaksikan kalian.

Itu sudah cukup menjelaskan.
Itu sudah cukup menyakitkan.

Mataku saja sampai enggan berkedip melihat kalian dari kejauhan.
Hatiku saja enggan merasakan pahitnya kenyataan kalau aku dinomorduakan.

Sakit.
Tapi jangan pura-pura khawatir, Tuan.
Aku akan segera pulih, segera.
Aku akan pulih, sedang Tuan masih sibuk memilih.

- Pi, puisi untuk hujan di sore hari kala mataku tengah melihat Tuan duduk bersebelahan dengan lain wanita, sangat mesra.

Komentar