Jatuh Hati di Masa Putih Biru
Aku bimbang.
Haruskah kusebut ini bahagia atau malah luka?
Yang jelas, aku bersyukur busa mengenalmu sejauh ini.
Meski sekarang aku dan kau berselisih hati.
Sederhananya,
Aku adalah seseorang yang pernah kau sebut masa depan.
Lucu memang.
Kau sampai menuliskan hal itu di dinding kelas kita dulu.
Dahulu,
Kala langit bernaung abu-abu.
Kali pertama kita memakai seragam putih biru.
Cuaca sedang sedikit gerimis.
Rintik yang jatuh amat bernuansa manis.
Tiba-tiba, ada yang tertangkap di lensa mataku.
Aku melihat seorang laki-laki yang tengah berdiri dengan satu buah dasi yang amat rapi.
Sepersekian waktu itu, mataku selalu mencarimu dan memandangi sosokmu.
Hatiku pun merasakan syukur teramat syukur bisa merasakan teduhnya perangaimu.
Pada kamu, yang bahkan belum ku ketahui namanya ketika itu.
Takdir mempertemukan kita berdua.
Gembira bukan kepalang ketika aku tahu bahwa aku dan kamu satu kelas.
Sejak saat itu, hobiku adalah memperhatikanmu.
Menatap lekat teduh wajahmu.
Bahkan, seringkali aku tersenyum ketika mata kita bertemu.
Hatiku tersipu menyadari bahwa aku sebahagia ini bisa bertemu dirimu.
Sebab—
Kau mirip jodohku.
Lantas kegembiraanku menjadi sedikit tabu.
Keyakinanku sedikit ragu.
Apakah akan ada cinta yang baru?
Apakah semua ini adalah harapan semu?
Apakah kamu itu palsu?
Jujur, kau adalah cinta pertamaku.
Lalu, apakah kau juga cinta terakhirku?
Aku tak tahu.
Selama satu semester di kelas tujuh,
Aku senang bisa dekat denganmu,
Walau aku tahu, aku hanya seorang teman bagimu.
Namun,
Bersamamu, hariku berseri.
Binar wajahku seolah-olah riang tanpa henti.
Dan hadirmu seolah memberi arti.
Rasa apakah ini?
Aku terlalu dini perihal hati.
Terlalu gagap perihal rasa.
Terlalu belia perihal cinta.
Dan terlalu takut perihal kecewa.
Hingga beberapa waktu kemudian,
Aku mengetahui bahwa kamu dan sahabatku saling jatuh hati.
Kecewaku bukan main.
Hatiku hancur ribuan keping.
Harapanku untuk selalu bersamamu perlahan mulai menjadi puing-puing.
Aku harus memilih.
Tak boleh ada hati yang kecewa diantara kalian berdua.
Aku saja.
Aku saja yang menanggung perkara lara.
Kian hari kalian kian dekat.
Cerah hariku menjadi pekat.
Bahagiaku terhalang sekat.
Lantas, siapa yang sebenarnya jahat?
Aku dijerat luka.
Cintaku menjadi duka.
Dukaku beemuara lara.
Laraku berubah menjadi derita.
Aku memilih sahabatku.
Aku mengerti akan posisiku.
Menjadi sahabatnya, dan teman (dekat) mu.
Aku paham betul, persahabatan tiada percuma.
Sedang pengorbanan tak akan sia-sia.
Sampai kelas sembilan,
Hatiku. masih tertuju pada dirimu, tuan.
Tiap haru dipenuhi dengan angan.
Mimpiku tersisa bayang-bayang.
Ada lagi sahabatku yang mencintaimu.
Gelisah, bimbang, pilu.
Seakan menjadi santapanku tiap waktu.
Seketika senyum yang kubuat menjadi semburat sendu.
Seketika bahagiaku direnggut halu.
Seaat setelah itu, kamu berlalu.
Rupanya, kau dan waktu berusaha menghapus aku.
Tak apa.
Tak apa bila memang aku menanggung ini semua.
Bila memang aku sendiri yang tersiksa.
Bila memang ruang hatiku hampa.
Aku benar-benar rela.
Justru aku bersyukur,
Meski dalam diam aku masih bisa melihat senyummu.
Aku masih bisa mendengar tawamu.
Aku masih bisa merasakan bahagiamu.
Walau nyatanya, alasanmu bahagia bukan lagi aku.
Selamat menempuh cerita baru, dengan sahabatku, atau orang asing yang baru.
Semoga kita bahagia, dengan jalan kita.
Masing-masing.
Sekarang aku yakin,
segelap apapun harapan, ia tetap sebuah harapan.
Dan selagi kau bahagia,
Aku akan (berusaha) bahagia.
Terimakasih atas suka duka yang kau suguhkan.
Namun,
kau harus tahu,
Sebenarnya,
Aku
Masih
Cinta.
- Pi, puisi kronologi kisah cinta selama tiga tahun, di sekolah menengah pertama, dengan kamu. ~tragis.
Komentar
Posting Komentar